Kupandang utara dari sudut kamar, banyak bintang menari di atas tapi tidak ada yang bisa membawa kedamaian untuk malam. Dia tetap termenung entah apa yang ia tunggu. Cahaya, kurasa tidak karena banyak bintang yang memberi. Moonbeam? Bukan juga! Tidak juga terlelap malam dengan indahnya bintang. Apa yang ia tunggu, apa yang ia mw? Satu berkas ketenangan ia menjawab yang tak pernah redup dan tak lelah oleh waktu yang setia berkorban hati dan waktu.
Ku kembali berfikir menemani malam dan mengamati langit. Kesetian malam tetap terjaga walau banyak bintang yang indah menari di hadapnya. Rumit apa yang diinginkan malam, tetapi indah untuk ikut merasakannya.
Malam semakin larut bintang- bintang semakin lelah dan mulai meredup. Berlahan mereka menjauh dan jauh. Satu bintang yang tak menjauh dan tak meredup dan malam pun menjadi bijak dengan datangnya bintang tersebut. Yang kusadarri dia adalah bintang timur “polaris”.
Satu bintang yang tak pernah redup walaupun cahayanya kecil tetapi cukup indah untuk menghiasi malam yang sunyi.